Seringkali para pengajar (baca:guru) rancu dalam memahami komponen-komponen dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Terutama yang berkaitan dengan makna model pembelajaran, teknik pembelajaran, metode, serta pendekatan pembelajaran. Berikut ini adalah definisi dari ketiganya.
Model adalah bentuk atau format yang ditawarkan dalam bentuk jadi tinggal pakai. Sehingga model pembelajaran memiliki format yang bisa diikuti, baku dan tidak boleh diubah.
Teknik adalah penerapan pembelajaran secara spesifik/khusus yang telah disesuaikan dengan kemampuan dan kebiasaan guru.
Metode merupakan suatu cara mengajar atau langkah-langkah yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Yaitu sebagai perangkat teknis yang dipilih dalam proses kegiatan belajar dan mengajar. Misalnya mengajar dengan metode ceramah, tanya jawab, dll.
Sedangkan pendekatan merupakan pola pikir seseorang dalam mencapai tujuan.
Semoga yang sederhana ini dapat menjawab. Matursuwun.
Kamis, 05 Desember 2013
Rabu, 04 Desember 2013
Guru Pembangun Generasi
Sebuah topik pembicaraan bergulir saat istirahat pertama. Salah seorang rekan melontarkan celetukan tajam mengomentari sebuah artikel yang dimuat dalam sebuah media cetak. Inti dari artikel tersebut menyebutkan bahwa guru saat ini adalah produk model pengajaran lama yang harus bertanggung jawab terhadap para siswa dengan model pengajaran sekarang.
Jika dianalisa, tidak ada yang salah dengan statemen dalam artikel tersebut, tetapi ada salah satu rekan yang langsung naik pitam dengan gagasan dalam artikel tersebut, beliau mengumpat bahwa penulis artikel tersebut hanya membual dan tidak konsisten dengan kenyataan yang berlaku.
Sejenak saya termenung, ada apa dengan beliaunya?
Seorang guru sudah pasti merupakan produk sebelum era sekarang/saat ini yang pasti akan menyampaikan pengalaman-pengalaman pembelajarannya kepada generasi sekarang. Pun demikian, siklus ini akan berlangsung dan berlaku pada generasi yang akan datang.
Hal ini merupakan bahan refleksi kita sebagai guru untuk selalu mengambil nilai-nilai terbaik dalam setiap jamannya untuk ditularkan, diadaptasikan dan diterapkan pada generasi-generasi setelahnya. Jika sebuah generasi menghasilkan para koruptor kelas kakap, maka sebagai guru hendaknya intropeksi.
Guru harus selalu mengembangkan kompetensinya, terutama selalu mengupdate kemampuan dalam hal keprofesionalannya. Jangan sampai gaptek atau picik dalam menghadapi kemajuan-kemajuan dalam bidang apapun.
Miskinnya naluri untuk mengadakan penelitian dan diskusi yang bermutu, membuat guru hanya berkutat pada metode-metode pengajaran yang jauh dari harapan untuk menciptakan generasi hebat. Lebih parahnya lagi, mereka hanya menanti tanggal berganti tanggal hingga saatnya nanti gajian atau terima tunjangan sertifikasi. :(
Bagaimana generasi kita sepuluh tahun mendatang jika masih ada pemikiran-pemikiran anti kemajuan seperti itu?
Jumat, 08 November 2013
Ayam Lodho
Ayam lodho adalah menu wajib dalam acara Muludan atau Maulid Nabi di kampungku. Biasanya disandingkan dengan kering tempe yang kriyuk dan maknyuss... Nyokapku adalah salah satu koki terbaik (persisnya di keluarga guweh :P). Mau nyoba kelezatan ayam lodho khas nyokap aku?
Berikut ini tak kasih contekan resep yakk...Bahan
1 ekor ayam kampung muda
2 batang serai, dimemarkan
1 cm jahe, dimemarkan
2 lembar daun jeruk, dibuang tulang daunnya
8 buah cabai rawit utuh
2 1/2 sendok teh garam
1 1/2 sendok teh gula merah
750 ml santan dari 1 butir kelapa
500 ml air
2 sendok makan minyak goreng untuk menumis
Bumbu Halus :
10 butir bawang merah
6 siung bawang putih
1 sendok teh ketumbar
10 buah cabai rawit
5 buah cabai merah
Cara membuat :
- Panggang ayam di atas bara api sambil sesekali dibalik hingga kesat kekuningan. Sisihkan.
- Panaskan minyak. Tumis bumbu halus, serai, jahe, dan daun jeruk sampai harum.
- Masukkan ayam. Aduk sampai berubah warna, lalu tambahkan cabai rawit, garam, dan gula pasir. Aduk rata.
- Tuang air. Masak sampai ayam empuk.
- Tuang santan sambil diaduk sampai mendidih dan matang dan rasanya cukup. Angkat.
- Goreng ayam dengan mentega atau minyak goreng hingga kuning kecoklatan.
- Siap disantap.
Refleksi Pembelajaran Bahasa Inggris di Kelas Rendah Sekolah Dasar
Ada beberapa hal esensial yang perlu disikapi dengan bergulirnya Kurikulum 2013 utamanya pada satuan pendidikan tingkat sekolah dasar. Salah satu di antaranya adalah pengajaran Bahasa Inggris di kelas rendah. Pengajaran bahasa Inggris sekolah dasar di kelas tinggi maupun rendah selama inipun masih perlu dikaji ulang. Karena minimnya tenaga pendidik yang berkualitas dan memahami TEYL (Teaching English for Young Learners). Dengan kebijakan Kurikulum 2013, menempatkan guru kelas 1, 2, dan 3 mengampu mata pelajaran bahasa Inggris di kelas mereka masing-masing. Yang menjadi masalah, kemampuan mendidik dan mengajar mereka masih perlu dipertanyakan. Walaupun secara teori dengan adanya program sertifikasi guru diharapkan guru SD merupakan sumber daya manusia profesional yang mampu mengampu kelas secara keseluruhan. Tetapi pada kenyataannya tidak demikian. Banyak penyimpangan-penyimpangan dalam hal pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing oleh guru-guru yang tidak memiliki kompetensi mengajar bahasa asing secara memadai, bahkan mengacaukan proses pengajaran bahasa asing pada tingkat selanjutnya.
Lebih mirisnya lagi, pembelajaran bahasa Inggris di SD hanya dialokasikan agar peserta didik mampu mengerjakan soal-soal uji kompetensi kognitifnya, sehingga kompetensi yang diharapkan dalam pembelajaran bahasa sama sekali tidak mencapai tujuan yang diinginkan.
Seorang pendidik anak usia dini sebelum
melaksanakan kegiatan pembelajaran terlebih dahulu perlu memperhatikan
karakteristik anak-anak yang dididik dan diajar agar program pembelajarannya
sesuai dengan perkembangan dimensi anak-anak yang meliputi dimensi kognitif,
bahasa, kreativitas, emosional dan sosial (Moeslichatoen, 1999).
Peserta didik pada level kelas rendah masih dapat dikategorikan pebelajar usia dini, sehingga diperlukan seorang pembelajar yang berkompetensi tinggi, sehingga mapu bersinergi dengan proses pembelajaran selanjutnya. Dari pengamatan di lapangan saat ini, peserta didik hanya dilatih mengerjakan soal-soal di LKS yang ternyata juga mengandung banyak penyimpangan-penyimpangan utamanya dalam hal pengadaannya. Perlu diadakan koordinasi agar peserta didik mendapatkan hak memperolah pengalaman terbaik dalam proses pembelajaran, bukan sekedar lolos dan lulus dari standar minimal penilaian kognitif. Lebih dari itu agar mampu menciptakan kesadaran akan pentingnya menguasai bahasa asing untuk mampu bersaing dalam dunia nyata kelak di kemudian hari.
Jika mau jujur, berapa banyak guru mata pelajaran Bahasa Inggris taruhlah di tingkat kabupaten atau kotamadya yang mampu mendidik dan mengajarkan bahasa asing sebagai sarana untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme, mungkin jumlahnya tak genap sejumlah jari tangan. Bahkan dalam program sertifikasipun banyak yang terjungkal, dan susah payah untuk meraih pengakuan seorang guru yang profesional.
Intinya, perlu mawas diri dan pengawasan kontinyu pada pembelajaran Bahasa Inggris di satuan pendidikan sekolah dasar agar meningkatkan kualitas pendidikan dan mutu lulusan sekolah dasar di Indonesia, utamanya dalam rangka mewujudkan Indonesia Hebat menjelang usianya yang (masih jauh) hampir 100 tahun.
Rabu, 16 Oktober 2013
Mencari Teladan
Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan tragedi memilukan yang menampar wajah peradilan di negeri ini. Benteng terakhir peradilan di bumi Indonesia ambruk lunglai karena ulah seorang pemimpin yang korup, menyusul seorang pemimpin daerah yang terlibat KKN, dan rentetan-rentetan peristiwa yang tercipta dari semakin mengakar dan mengumbinya budaya korupsi, kolusi dan nepotisme. Ibarat pagar makan tanaman, para pemimpin di negeri kita berlomba-lomba untuk mencari keuntungan pribadi dengan mengorbankan integritas sebagai seorang teladan yang harus dilakoninya sebagai seorang yang berada di garis terdepan. Mencari sosok pemimpin yang setia mengemban amanat penderitaan rakyat di negeri ini ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Lalu, ke mana lagi kita mencari figur teladan jika pemimpin-pemimpin tak mampu lagi memberi suri tauladan?
Di tengah-tengah kegalauan ini muncul sebuah kecenderungan mencari figur teladan dari kaum kelas bawah. Seperti dicontohkan, masyarakat kita dibuat kagum dan berdecak oleh seorang tukang becak yang mampu berangkat menunaikan ibadah haji dengan menyisihkan sedikit dari pendapatannya yang juga sedikit selama puluhan tahun hingga mampu melaksanakan ibadah wajib agamanya. Ada lagi, seorang nenek penjual koran yang mampu melaksanakan kurban dengan menyisihkan keuntungan penjualan korannya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang menjadi hits untuk diperbincangkan.
Maka tidak menutup kemungkinan, akan ada unsur-unsur yang bermain dan memanfaatkan moment tak terduga ini dengan orientasi keuntungan pribadi. Misalnya dengan melakukan trik-trik settingan seperti yang dilakukan oleh selebriti tanah air maupun orang-orang yang terobsesi menjadi figur publik.
Banyak dari kita merasa narsis, hal ini dimungkinkan karena alam bawah sadar kita mengakui bahwa saat ini tak ada figur yang mampu dijadikan teladan dan idola bagi diri pribadi. Sehingga semakin melegalkan tindakan-tindakan narsistis.
Jika direnungkan dengan
Senin, 23 September 2013
![]() |
MAKNA INDAH DARI KELEZATAN KETUPAT
Kuliner legendaris ini seakan-akan menjadi sebuah keniscayaan bagi orang-orang yang merayakan Idul Fitri. Bahkan, yang tidak merayakanpun kebagian rezeki untuk merasakan kelezatan paduan pulen ketupat dan gurihnya opor ayam/ gulai daging...:)
Bagi wong Jawa, yang kental dengan utak-atik mathuknya ketupat memiliki makna yang luar biasa dalam. Ketupat selalu disandingkan dengan lepet, yaitu hidangan dari ketan yang dicampur dengan parutan kelapa dan garam, dibungkus daun pisang, kemudian direbus bersama ketupat dalam satu wadah yang besar. Inilah yang melatar belakangi mengapa keduanya selalu dikaitkan. Ibaratnya two in one, all for one, atau apadah....hehehehe... Ketupat dalam bahasa Jawa KUPAT, dianalogikan AKU LEPAT atau NGAKU LEPAT, yang berarti semua individu pada hari indah itu berebut mengaku memiliki kesalahan atau dosa, sehingga perlu untuk meminta maaf. Dalam setiap perjumpaan dengan sanak saudara, tetangga, maupun siapa saja mereka mengatakan, "Sedaya kalepatan, kula nyuwun pangapunten".
Bayangkan, betapa indahnya jika hidangan ini selalu tersedia di meja makan seluruh manusia Indonesia. Maka dipastikan, tidak ada lagi pemimpin yang adigang,adigung, adiguna yang pantang meminta maaf atas kesalahannya kepada rakyat, tidak ada lagi manusia Indonesia yang egois dan mau menang sendiri, karena masing-masing akan dengan kesatria menyatakan bahwa ia tidaklah sempurna, penuh dengan kekurangan dan kesalahan. Sehingga mengaku salah dan MEMINTA MAAF adalah karakter andalan nan indah yang dimiliki negeri ini.
Ah, indah nian negeri kita, dari segala yang terhubung dan terkait di dalamnya merupakan sebuah harmoni. Mengapa masih juga ada jiwa-jiwa kotor yang penuh nafsu angkara murka menghapus segala keindahan di dalamnya untuk digantikan dengan budaya dari antah berantah, penuh dengan kekasaran, penghancuran, dan kejahilan. Mari kita resapi, mengenal jati diri tidak harus menunggu datangnya ratu adil, detik inipun hati kita dapat tersentuh, dengan menikmati sepiring ketupat disiram kuah opor ayam nan lezat. Seperti aku yang selalu rindu ketupat dan opor ayam buatan nyokapku...:)
Bisnis Pendidikan
Bisnis erat kaitannya dengan tujuan keuntungan (profit oriented). Apa jadinya bila pendidikan dijadikan ajang bisnis? Itulah pertanyaan klasik, yang tak harus dijawab karena semua orangpun tahu bahwa praktik bisnis pendidikan di negara ini bukan hal yang menghebohkan lagi. Bahkan sudah menjadi sesuatu yang sangat dimaklumi.
Beberapa waktu yang lalu, beberapa rekan yang berkecimpung di dunia pendidikan khususnya sebagai guru SD diresahkan dengan adanya peraturan yang mengatur relevansi ijazah yang harus dimiliki dengan pembelajaran yang diampunya. Seorang guru SD harus memiliki ijazah paling tidak Sarjana Strata 1 Pendidikan Guru SD bla...bla..bla...
Maka, kehebohan inipun dibidik oleh beberapa oknum berotak bisnis yang menawarkan pendidikan instan demi liniernya pendidikan para bethara dan bethari guru. Dengan berbagai macam strategi pemasaran yang membuai, mereka-mereka yang merasa tidak memiliki ijazah linier beramai-ramai mendaftar. Saya jadi termangu, bukankah mereka semua telah bergelar Sarjana Strata 1 Pendidikan (S.Pd)?
Tidak juga berhenti disitu, para pebisnis itupun menawarkan produk berupa sarjana Strata 2 yang juga idem ditto instant :( how awful , bagi mereka yang ogah kembali dari nol untuk meraih S.Pd SD . :( disgusting
Sejenak, saya berhenti berfikir...karena pemikiran para pialang ijazah tersebut sudah begitu jauh melesat hingga saya tak mampu menganalisa dengan akal sehat...:p what the f**k with my brain or what they do
Aneh sekali, bisnis pendidikan tersebut ternyata digawangi oleh orang-orang yang tahu persis tentang kebijakan-kebijakan pendidikan. Betapa ironis, mereka yang seharusnya mendukung kebijakan justru memperjualbelikan peraturan demi kelangsungan hidup rekening pribadinya. Mereka sudah lebih dulu tahu dengan persis peraturan perundangan atau kebijakan tentang pendidikan, pendidik, maupun tenaga kependidikan, tetapi malah menggunting di dalam lipatan, mengail di air keruh. Lebih menjijikkan lagi merekapun melakukan bully terhadap guru yang tidak memiliki ijazah linier. Sertifikasi dicabutlah, kenaikan tingkat ditundalah, apalah.....
Ketidakteraturan dan penyimpangan di negeri ini benar-benar jauuuhhh melesat dari ambang batas toleransi. Sudah mengalami masa jaman edan, masa di mana salah menjadi benar, benar menjadi salah. Busuk dipuja, jujur dikubur....
:(
Jika pendidikan bukan lagi dianggap sebagai pencerah dan penyelamat masa depan bangsa, sebagai tolok ukur peradaban suatu bangsa, sebagai indikator kemajuan, sebagai benteng pertahanan bangsa...tetapi hanya onggokan barang yang dijadikan komoditas bisnis, tinggal tunggu waktu peradaban bangsa ini akan hancur.
Masih adakah hati di sana yang mau dan mampu membangunkan generasi hebat yang akan menjadikan bangsa ini sehebat jaman keemasan Majapahit? Kita tunggu jawabannya setelah iklan yang mau lewat....:P
Langganan:
Postingan (Atom)
